Hai kamu, ya, kamu yang sedang membaca ini sambil mungkin menahan napas karena merasa tenang. Santai dulu, tarik napas dalam-dalam. Kita semua pernah ada di posisi yang sama: terlalu peduli pada pendapat orang lain, merasa harus menyenangkan semua orang, dan akhirnya lupa bagaimana rasanya menyenangkan diri sendiri .
Kalimat sederhana ini mungkin terdengar mendasar, tapi layak diulang berulang kali. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri.
Karena nyatanya, banyak dari kita hidup dengan mentalitas“ harus bisa, harus kuat, harus tahan, harus terus maju” sampai lupa kalau kita juga punya hak untuk lelah, untuk menolak, untuk berkata “tidak”, bahkan untuk sekadar duduk tanpa harus produktif.
Saat Kita Terlalu Sering Berkata “Ya” Saat Ingin Berkata “Tidak”
Kita hidup di dunia yang menghargai kesigapan. Orang yang selalu bisa dipanggil, yang tidak pernah menolak, yang rela begadang demi tenggat waktu atau demi menemani teman yang “butuh curhat” mereka dianggap baik hati, bertanggung jawab, penuh pengorbanan. Padahal, di balik semua itu, bisa jadi ada seseorang yang perlahan-lahan kehilangan dirinya.
Pernah merasa seperti ini?
“Aku tidak enak kalau nolak...”
“Nanti dia kecewa, ah...”
“Gapapa, aku kuat kok...”
Kita jadi orang serba tidak enak . Kata “tidak” terasa seperti dosa. Menolak permintaan teman, atasan, atau bahkan keluarga terasa seperti bentuk ketidakpedulian. Padahal, berkata “tidak” bukan berarti kita tidak peduli. Itu berarti kita sedang belajar menghargai batasan diri.
Melelahkan Jadi Orang “Tidak Enak”
Menjadi orang yang selalu bisa diandalkan memang terdengar mulia. Tapi ketika kebiasaan itu muncul bukan karena pilihan, melainkan rasa takuttakut dianggap egois, takut dicintai, takut dianggap buruk maka itu bukan kebaikan. Itu kelelahan yang terselubung .
Saya pernah mengalaminya. Dulu, saya hampir tidak pernah menolak ketika diajak rapat dadakan jam 8 malam. Saya tetap membalas email setelah jam kerja selesai. Saya setuju bertemu teman padahal badan sudah capek setengah mati. Dan hasilnya? Saya sering merasa marah tapi marahnya bukan pada orang lain, melainkan pada diri sendiri.
Kenapa? Karena saya merasa dikorbankan. padahal saya sendiri yang membiarkan hal itu terjadi.
Kalau kamu merasa lelah, marah, atau hampa meski sudah “berbuat baik” untuk banyak orang, mungkin inilah saatnya untuk berhenti sejenak dan bertanya:
“Apakah semua ini saya lakukan karena saya mau… atau karena saya merasa harus ?”
Belajar Berkata “Ya” dan “Tidak” dengan Tenang
Kata “tidak” bukan tindakan yang egois. Justru, itu bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain. Saat kita jujur dengan batasan kita, kita sedang mencegah diri menjadi orang yang rapuh, mudah cacat, atau bahkan kelelahan.
Coba Bayangkan
Kamu menolak tawaran lembur karena sudah terlalu banyak waktu yang kamu berikan minggu ini.
Kamu bilang, “Maaf, aku tidak bisa datang ke acara besok, aku perlu waktu istirahat.”
Kamu memilih untuk tidak membahas topik tertentu karena kamu tahu itu akan memicu stres.
Bukan kekejaman. Bukan ketidaksopanan. Itu adalah kejujuran . Dan kejujuran itu penting untuk kebaikan jangka panjang.
Sebaliknya, kata “ya” juga harus bermakna. Jangan katakan “ya” hanya karena takut berselisih, takut dianggap dingin, atau takut ditinggalkan. Katakan “ya” karena kamu memang mau melakukannya. Karena kamu merasa cukup kuat, karena kamu melihat manfaatnya bukan hanya bagi orang lain, tapi juga bagi dirimu sendiri.
“Jika ya, katakan saja ya. Jika tidak, katakan saja tidak.”
Kalimat sederhana ini punya kekuatan besar. Tidak perlu dekorasi alasan bertele-tele. Tidak perlu merasa berhutang penjelasan. Kamu cukup mengatakan apa yang kamu rasa dengan tenang.
Cara Mulai: Dari Hal Kecil
Merasa sulit untuk langsung tegas? Mulai pelan-pelan. Dari hal kecil.
Tolak menawarkan kopi sore karena kamu lelah. Batalkan janji dengan alasan yang jujur: “Aku butuh waktu sendiri hari ini.” Katakan “Aku butuh istirahat” jika diminta menyelesaikan sesuatu yang sebenarnya bisa ditunda.
Awalnya, mungkin kamu merasa bersalah. Tapi lambat laun, rasa itu akan berkurang. Karena kamu sedang melatih otak dan hati untuk memahami satu kebenaran penting:
Tidak apa-apa memilih dirimu sendiri.
Merawat Diri Bukan Kemewahan Tapi Kebutuhan
Kita sering menganggap “perawatan diri” sebagai hal yang mewah. Spa, liburan, journaling, yoga itu semua memang bagus, tapi perawatan diri yang paling mendasar justru terjadi dalam pilihan sehari-hari .
Merawat diri adalah saat kamu memilih istirahat alih-alih memaksakan diri.
Merawat diri adalah saat kamu mengatakan “aku lelah” tanpa rasa malu.
Merawat diri adalah saat kamu menolak permintaan yang akan membuatmu tersiksa, meski alasan orang lain terdengar sangat masuk akal.
Kita tidak bisa terus-menerus memberi dari gelas yang kosong. Suatu saat, kita akan benar-benar habis dan bukan hanya kita yang terkena dampaknya, tapi juga orang-orang yang kita sayangi.
Kamu Tidak Harus Sempurna Kamu Cukup Jadi Diri Sendiri
Kita hidup di zaman yang memuja produktivitas, kesempurnaan, dan kemampuan multitasking. Media sosial penuh dengan orang-orang yang seolah-olah bisa melakukan segalanya: karier cemerlang, badan ideal, hubungan harmonis, hobi produktif, dan masih sempat menyalin pagi hari.
Tapi tahukah kamu? Di balik semua itu, banyak yang juga sedang berjuang. Banyak yang juga ingin berhenti sejenak. Banyak yang diketahui juga ingin menangis di kamar mandi tanpa siapa-siapa.
Jadi, jangan bandingkan dirimu dengan versi “sempurna” yang kamu lihat di luar. Bandingkan dirimu dengan versimu kemarin. Apakah kamu sudah lebih lembut? Lebih jujur? Lebih penuh kasih?
Jika iya, kamu sudah menang.
Akhirnya: Jadi Lebih Baik untuk Diri Sendiri
Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri.
Izinkan dirimu lelah.
Izinkan dirimu marah.
Izinkan dirimu tidak bisa membantu semua orang.
Izinkan dirimu berkata “tidak”, tanpa rasa bersalah.
Karena dunia ini membutuhkan orang-orang yang utuh bukan yang terus-menerus memecah diri demi menyenangkan orang lain.
Cukup katakan:
“Jika ya, katakan saja ya.
Jika tidak, katakan saja tidak.”
Tidak perlu bertele-tele. Tidak perlu merasa bersalah. Cukup jujur. Cukup tenang. Cukup manusiawi.
Dan ingat, kamu tidak harus terus-terusan baik. Kamu cukup menjadi dirimu sendiri dengan segala kelemahan dan kelebihanmu.
Karena di situlah letak keindahannya:
Menjadi manusia yang utuh , bukan manusia yang sempurna .
Jadi mulai hari ini, jadilah lebih baik untuk dirimu sendiri, karena kamu layak.
Dan kamu tidak sendiri.
Salam hangat,
Anda yang sedang belajar jadi lebih lembut pada diri sendiri

Tidak ada komentar:
Posting Komentar