INTERNASIONAL, COREinsight - 4 April 2026 – Angkatan bersenjata Iran mengumumkan pada Sabtu (4/4) bahwa sistem pertahanan udara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berhasil menembak jatuh dua jet tempur, tiga drone, dan dua rudal yang mereka sebut sebagai bagian dari “operasi pertahanan maritim dan udara” yang direncanakan Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan resmi tersebut menambahkan, peristiwa ini menandai “hari kelam” bagi Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) dan militer Israel, sekaligus mengukuhkan kemampuan pertahanan udara Iran di tengah meningkatnya ketegangan regional.
Rincian Penembakan
Dalam rilis berita yang dikeluarkan oleh Kementerian Komunikasi dan Hubungan Masyarakat IRGC pada pagi hari Sabtu, dinyatakan bahwa sistem pertahanan medium‑range S‑300 dan S‑400 yang terpasang di provinsi Khomein, Zanjan, dan Mazandaran berhasil menetralisir dua rudal jelajah yang melintasi pada ketinggian 15‑20 km. Selain itu, unit perlindungan udara IRGC di provinsi Alborz melaporkan tiga drone tak berawak (UAV) berjenis MQ‑9 Reaper yang terdeteksi terbang pada lintasan selatan‑barat menuju wilayah perbatasan Iran‑Irak.
Hal yang paling menonjol dari pernyataan tersebut adalah laporan bahwa dua jet tempur tipe F‑16 dan F‑35 yang diklaim berasal dari Angkatan Udara Amerika Serikat telah dihancurkan oleh unit pertahanan darat IRGC di wilayah provinsi Kordestan . Menurut IRGC, jet‑jet tersebut terdeteksi dalam zona larangan udara (no‑fly zone) yang telah ditetapkan sejak awal tahun 2026 setelah adanya pelanggaran pengawasan laut di Teluk Persia.
"Kami telah memperingatkan kembali semua pihak bahwa zona udara Iran dijaga dengan tegas. Penembakan ini membuktikan bahwa Iran tidak akan melakukan invasi atau intervensi militer yang mengancam kelangsungan negara," kata Brigadir Jenderal Mohammad Ali Jafari , juru bicara IRGC, dalam konferensi pers virtual.
Sumber dan Verifikasi
Press TV – Juru bicara resmi Iran, Saeed Jalili , menyampaikan bahwa rekaman radar milik IRGC telah mengonfirmasi keberadaan dua pesawat jet dan tiga UAV yang masuk tanpa izin. Video rekaman radar, yang kemudian dipublikasikan oleh jaringan televisi milik negara, menunjukkan sinyal “lock‑on” dan misil penjagaan udara letusan pada pukul 03:18 dan 04:05 waktu setempat.
Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (Departemen Luar Negeri) – Pada hari yang sama, juru bicara Megan Woods menolak semua tuduhan Iran, menyatakan bahwa “tidak ada data yang dapat mengkonfirmasi keberadaan jet atau drone Amerika di wilayah udara Iran pada tanggal 3 April 2026.”
Lembaga ini menambahkan bahwa “kegiatan militer di wilayah tersebut terus memantau melalui satelit dan platform intelijen lainnya.”
Kementerian Pertahanan Israel (IDF) – Menanggapi klaim Iran, Brigadir Jenderal Aviv Kochavi menyatakan bahwa “Israel tidak meluncurkan operasi udara di wilayah Iran pada tanggal tersebut, dan tidak ada laporan tentang kehilangan aset militer Israel.” Ia menambahkan bahwa Israel terus “memantau” ancaman balasan Iran, namun tidak memberikan komentar lebih lanjut tentang kejadian tersebut.
International Institute for Strategic Studies (IISS) – Analis militer Dr. Fatima al‑Saadi mencatat bahwa “jika benar, penembakan jet F‑35 atau F‑16 oleh IRGC akan mencapai pencapaian teknis yang signifikan, mengingat kemampuan siluman pesawat tersebut.” Ia menekankan pentingnya menunggu verifikasi independen dari observatorium pihak ketiga, seperti Organization for Security and Co‑operation in Europe (OSCE) atau United Nations Institute for Disarmament Research (UNIDIR).
Insiden ini terjadi di tengah ketegangan yang memuncak terkait operasi penambangan minyak dan blokade ekonomi yang diberlakukan oleh AS dan sekutunya terhadap Iran sejak tahun 2025. Washington telah meningkatkan kehadiran militer di Teluk Persia, termasuk pengerahan kapal perang Ticonderoga‑class serta pesawat patroli P‑8 Poseidon untuk mengawasi jalur pengiriman minyak.
Sementara itu, Israel secara terbuka menyatakan atas “ program nuklir Iran ” dan menegaskan komitmen untuk “ mencegah ” potensi ancaman strategi tersebut. Pada bulan Januari 2026, Israel mengumumkan Latihan militer gabungan dengan Amerika Serikat di wilayah gurun Negev, yang menurut analis menandakan kesiapan serangan pre-emptif.
_11zon%20(1).jpg)

_11zon%20(1).jpg)