Stay up to date with the latest news and relevant updates from us.
0
News
    Home Tidak Ada Kategori

    Hidup dan Cinta yang Absurd dan Bagaimana Menjadi Diri Sendiri

    27 min read

     

    Tulang Jam

    Betapa menyedihkannya aku

    Aku telah berjuang hingga berdarah senja, namun tak ada yang tumbuh di jam pasir.


    Waktu menggerogoti tulang punggungku,

    namun aku masih saja menjadi kursi kosong

    di pesta orang-orang yang bekerja.


    Halaman-halaman kalender dipenuhi belalang, setiap halaman bagaikan kereta yang terlewat, sebuah pintu yang hanya terbuka ke dalam.


    Aku menghitung kegagalanku seperti gigi

    bergemeretak, tak berguna,

    menghancurkan doa yang sama hingga menjadi debu.


    Cermin itu menampilkan seorang lelaki dari asap, larut dalam iklan-iklan pekerjaan pekerjaan, tinta mengalir seperti urat-urat yang terurai.


    Wahai detak yang tak kenal lelah

    haruskah aku menjadi luka sekaligus

    pisau bedah karat?


    Setiap pagi, aku tertutup

    di depan altar, tetapi dewa beruntung

    adalah seorang penjahit yang tuli,

    menjahit resumeku mengikuti angin.

    (Andrea)


    Aksara Buta


    Aku hanya ingin mencintaimu.

    Itu saja. Semesta tahu, hanya itu.

    Tapi bagaimana caranya? 


    Aku mengembara, 

    dalam kabut yang tak berbentuk, 

    mencari aksara yang belum pernah kau dengar, di bawah langit yang retak 

    di antara puing-puing bahasa.


    Kugali tanah beku dari ingatan primordial,

    menyelami kedamaian demi sebutir makna murni, yang belum terjamah, belum ternoda, belum terucap.


    Dan aku di sini, 

    dengan keinginan yang membakar, 

    namun bibirku tersegel oleh ironi yang pahit.

    Mencintai, tapi tak mampu 

    memberi nama yang sebenarnya.

    (Andrea)


    Kita, Ya, kita.


    Akhirnya, kita menjadi asing.

    Bagaimana bisa?

    Pikiran ini berputar tanpa henti,

    seperti roda gerigi yang lepas 

    dari mesin waktu, melayang 

    di ruang hampa di antara kita.


    Dulu, ada seru,

    ombak yang pecah 

    di dalam dada, saat mata kita

    bertemu sekejap, semesta bergetar.

    Sebuah janji tanpa nama,

    digantung tipis di udara,

    seperti benang laba-laba basah,

    menanti angin.

    (Andrea)


    Cermin Retak


    Kata-kata...

    Oh, kata-kata.

    Mereka adalah burung-burung 

    buta di kerongkonganku,

    mematuk-matuk, ingin terbang bebas,

    tapi sayapnya terbuat dari 

    ketakutan yang dingin.


    Dan di lidahmu,

    mereka mungkin berubah 

    menjadi kristal es,

    membeku sebelum sempat menetes 

    menjadi suara yang kau tahu.


    Kita sama-sama bisu,

    mewarisi ketenangan yang sama,

    seperti dua cermin yang 

    saling menyi kan cahaya,

    namun tak ada yang berani melihat wajah.


    Dan sekarang,

    kita melihat satu sama lain,

    dari pengamatan yang absurd.

    Kau adalah bayangan yang kukenal,

    tapi wujudmu luntur,


    Aku? Aku adalah cermin retak,

    yang tak lagi bisa memantulkan keseluruhannya.

    (Andrea)


    Tentang Menjadi Diri Sendiri


    Cermin menunjukkan wajah yang dulu kukenal,

    Namun bayangan menarikku ke tempat yang seharusnya kutuju.


    Suara-suara yang terus berdengung di aula,

    Membangun dinding tebal dan tak terlihat.

    "Semua orang melakukannya," bisik itu dimulai,

    Racun senyap yang ditujukan pada hati yang jujur.


    Ketakutan untuk menonjol, percikan kesepian,

    Ditukar dengan kenyamanan dalam kegelapan.

    Beban Kerumunan

    Bukan dorongan, tendangan, atau pukulan tiba-tiba,


    Tetapi gelombang besar yang menentukan bagaimana mengalir.

    Untuk memakai topeng, untuk menertawakan apa yang kejam.


    Untuk mengikuti setiap aturan yang tak tertulis dan hampa.

    Simpul di dalam terasa kencang, tanda peringatan,


    Di mana kebenaran pribadi bertemu dengan garis yang bergerigi.

    Lebih mudah mengangguk dan hanyut,

    Daripada menjadi satu-satunya suara yang menyanyikan lagu yang berbeda.

    Pilihan untuk Tetap Tinggal


    Tetapi diam memiliki harga yang sulit dibayar,

    Ketika bagian-bagian dari dirimu mulai hanyut.

    Berdiri sendiri itu dingin, anginnya kencang,

    Tapi lebih baik begitu daripada hidup dalam kebohongan.


    Kekuatan terbesar bukanlah terletak pada kelompok,

    Tetapi pada keberanian untuk membelakangi diri sendiri.


    Untuk mendengarkan irama hatimu sendiri,

    Dan biarkan dunia yang berisik menangani sisanya.

    (Carlitos)

    Your Ads Here
    Responsive Ads Here
    Your Ads Here

    Populer Minggu ini

    Populer Bulan ini

    Additional JS