Hidup dan Cinta yang Absurd dan Bagaimana Menjadi Diri Sendiri
Tulang Jam
Betapa menyedihkannya aku
Aku telah berjuang hingga berdarah senja, namun tak ada yang tumbuh di jam pasir.
Waktu menggerogoti tulang punggungku,
namun aku masih saja menjadi kursi kosong
di pesta orang-orang yang bekerja.
Halaman-halaman kalender dipenuhi belalang, setiap halaman bagaikan kereta yang terlewat, sebuah pintu yang hanya terbuka ke dalam.
Aku menghitung kegagalanku seperti gigi
bergemeretak, tak berguna,
menghancurkan doa yang sama hingga menjadi debu.
Cermin itu menampilkan seorang lelaki dari asap, larut dalam iklan-iklan pekerjaan pekerjaan, tinta mengalir seperti urat-urat yang terurai.
Wahai detak yang tak kenal lelah
haruskah aku menjadi luka sekaligus
pisau bedah karat?
Setiap pagi, aku tertutup
di depan altar, tetapi dewa beruntung
adalah seorang penjahit yang tuli,
menjahit resumeku mengikuti angin.
(Andrea)
Aksara Buta
Aku hanya ingin mencintaimu.
Itu saja. Semesta tahu, hanya itu.
Tapi bagaimana caranya?
Aku mengembara,
dalam kabut yang tak berbentuk,
mencari aksara yang belum pernah kau dengar, di bawah langit yang retak
di antara puing-puing bahasa.
Kugali tanah beku dari ingatan primordial,
menyelami kedamaian demi sebutir makna murni, yang belum terjamah, belum ternoda, belum terucap.
Dan aku di sini,
dengan keinginan yang membakar,
namun bibirku tersegel oleh ironi yang pahit.
Mencintai, tapi tak mampu
memberi nama yang sebenarnya.
(Andrea)
Kita, Ya, kita.
Akhirnya, kita menjadi asing.
Bagaimana bisa?
Pikiran ini berputar tanpa henti,
seperti roda gerigi yang lepas
dari mesin waktu, melayang
di ruang hampa di antara kita.
Dulu, ada seru,
ombak yang pecah
di dalam dada, saat mata kita
bertemu sekejap, semesta bergetar.
Sebuah janji tanpa nama,
digantung tipis di udara,
seperti benang laba-laba basah,
menanti angin.
(Andrea)
Cermin Retak
Kata-kata...
Oh, kata-kata.
Mereka adalah burung-burung
buta di kerongkonganku,
mematuk-matuk, ingin terbang bebas,
tapi sayapnya terbuat dari
ketakutan yang dingin.
Dan di lidahmu,
mereka mungkin berubah
menjadi kristal es,
membeku sebelum sempat menetes
menjadi suara yang kau tahu.
Kita sama-sama bisu,
mewarisi ketenangan yang sama,
seperti dua cermin yang
saling menyi kan cahaya,
namun tak ada yang berani melihat wajah.
Dan sekarang,
kita melihat satu sama lain,
dari pengamatan yang absurd.
Kau adalah bayangan yang kukenal,
tapi wujudmu luntur,
Aku? Aku adalah cermin retak,
yang tak lagi bisa memantulkan keseluruhannya.
(Andrea)
Tentang Menjadi Diri Sendiri
Cermin menunjukkan wajah yang dulu kukenal,
Namun bayangan menarikku ke tempat yang seharusnya kutuju.
Suara-suara yang terus berdengung di aula,
Membangun dinding tebal dan tak terlihat.
"Semua orang melakukannya," bisik itu dimulai,
Racun senyap yang ditujukan pada hati yang jujur.
Ketakutan untuk menonjol, percikan kesepian,
Ditukar dengan kenyamanan dalam kegelapan.
Beban Kerumunan
Bukan dorongan, tendangan, atau pukulan tiba-tiba,
Tetapi gelombang besar yang menentukan bagaimana mengalir.
Untuk memakai topeng, untuk menertawakan apa yang kejam.
Untuk mengikuti setiap aturan yang tak tertulis dan hampa.
Simpul di dalam terasa kencang, tanda peringatan,
Di mana kebenaran pribadi bertemu dengan garis yang bergerigi.
Lebih mudah mengangguk dan hanyut,
Daripada menjadi satu-satunya suara yang menyanyikan lagu yang berbeda.
Pilihan untuk Tetap Tinggal
Tetapi diam memiliki harga yang sulit dibayar,
Ketika bagian-bagian dari dirimu mulai hanyut.
Berdiri sendiri itu dingin, anginnya kencang,
Tapi lebih baik begitu daripada hidup dalam kebohongan.
Kekuatan terbesar bukanlah terletak pada kelompok,
Tetapi pada keberanian untuk membelakangi diri sendiri.
Untuk mendengarkan irama hatimu sendiri,
Dan biarkan dunia yang berisik menangani sisanya.
(Carlitos)
