COREinsight - Melalui media sosial, Trump mengumumkan penangguhan rencana serangan besar-besaran terhadap infrastruktur energi dan jembatan Iran. Keputusan ini bersyarat: Iran wajib menjamin "PEMBUKAAN LENGKAP, SEGERA, dan AMAN" di Selat Hormuz, jalur vital bagi seperlima pasokan energi dunia.
Gencatan
senjata ini terjadi di tengah tekanan ekonomi dan politik domestik, terutama
setelah penyiaran harga bensin di Amerika Serikat dan penurunan tingkat
persetujuan Trump menjelang pemilihan paruh waktu. Tanggapan pasar pun terlihat
instan; indeks saham melonjak sementara harga minyak dunia merosot setelah
pengumuman tersebut.
Israel,
melalui kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menyatakan dukungan terhadap
langkah Trump. Namun, gencatan senjata ini tidak berlaku bagi operasi Israel
terhadap Hizbullah, kelompok militan pro-Iran yang terus terlibat dalam
eskalasi konflik di Lebanon selatan.
Di
Pentagon pada hari Rabu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf
Gabungan, Jenderal Dan Caine, mengonfirmasi bahwa operasi militer AS akan jeda
selama masa gencatan senjata. “Pasukan gabungan tetap dalam posisi siaga, siap
melanjutkan pengoperasian tempur jika diperintahkan atau diperlukan,” tegas
Caine.
Meski
begitu, Hegseth masih menyimpan detail mengenai poin-poin utama kesepakatan,
seperti peran militer AS dalam mengawal kapal komersial di Selat Hormuz atau
protokol transfer cadangan uranium Iran yang mungkin menjadi bagian dari.
Di sisi
lain, konflik tetap membara. Rabu pagi, militer Israel mengeluarkan perintah
evakuasi baru bagi penduduk Lebanon selatan, menandakan rencana perluasan
operasi. Menyikapi situasi yang kian tidak menentu, militer Lebanon mengimbau
warganya untuk tidak kembali ke desa-desa di selatan yang kini telah diduduki
oleh pasukan Israel.
_11zon%20(1).jpg)

_11zon%20(1).jpg)